Konsep Masyarakat Madani Dalam Islam

05.36 |




KONSEP MASYARAKAT MADANI

Makalah Ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Pendidikan Agama Islam”
Dosen : M. Haidlor,S.Si., Lc


Oleh
Lailatul Badriyah ( 121810301036)


MATA KULIAH UMUM
JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS JEMBER
2012




KONSEP MASYARAKAT MADANI

Makalah Ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Pendidikan Agama Islam”
Dosen : M. Haidlor,S.Si., Lc


Oleh
Lailatul Badriyah (121810301036)



MATA KULIAH UMUM
JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS JEMBER
2012



KATA PENGANTAR
Puji Syukur kehadirat Dzat yang Maha Kuasa atas limpahan karunia- Nya berupa kemampuan berpikir sehingga hanya dengan pertolongan- Nya penulis dapat menyelesaikan makalah dengan topik Karakter Islam sebagai Agama Rasional dan Kaffah dan judul yang penulis ambil adalah “Peran Akal dan Wahyu dalam Islam serta Berbagai Bukti Kesempurnaan Islam”.
Ucapan terima kasih penulis sampaikan pada segenap pihak yang telah membantu dalam penulisan ini. Untuk itu penulis menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih yang setinggi- tingginya kepada :
  1. Kedua orangtua tercinta dan segenap keluarga, yang telah banyak memberikan dorongan moril maupun materiil.
  2. Rasulullah Muhammad SAW yang membawa umat manusia keluar dari kegelapan dan kebodohan.
  3. Bapak M. Itqon Syauqi, S. Th. I selaku Dosen Pembimbing Mata Kuliah Umum Pendidikan Agama Islam 26 yang telah membimbing penulis dalam penyelesaian makalah ini.
Penulis senantiasa menyadari bahwa tuisan ini masih jauh dari sempurna, bik dari segi materi, sistematika pembahasan maupun susunan bahasanya. Oleh karenanya, penulis senantiasa terbuka terhadap kritik dan saran yang konstrituktif, dengan iringan do’a mudah- mudahan makalah ini dapat bermanfaat dalam pengembangan pendidikan serta wawasan berpikir kita bersama.


Jember, Oktober 2011


Penulis

DAFTAR ISI
Halaman Judul




Kata Pengantar
Daftar Isi
BAB I PENDAHULUAN
    1. Latar Belakang
    2. Rumusan Masalah
    3. Tujuan Penulisan
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian masyarakat madani
2.2 Karakteristik masyarakat madani
2.3 Mewujudkan masyarakat madani
2.4 Posisi peran umat islam di Indonesia
BAB III SIMPULAN DAN SARAN
3.1 Simpulan
3.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA




BAB I
PENDAHULUAN
    1. Latar Belakang
Ada berbagai macam pendekatan terhadap Islam. Salah satunya adalah pendekatan rasional. Pendekatan ini adalah salah satu pendekatan yang universal. Tentu saja karena fitrahnya setiap manusia memiliki akal untuk berpikir. Meski seseorang awalnya menerima Islam dengan jalur lain, suatu saat ia akan menanyakan secara rasional, mengapa saya shalat misalnya. Rasional menurut Kamus Bahasa Indonesia artinya “menurut pikiran dan pertimbangan dengan alasan yang logis; menurut pikiran yang sehat; cocok dengan akal; sesuai dengan akal sehat”. Atau sederhananya rasional itu “logis” atau “masuk akal” menurut Tesaurus Bahasa Indonesia. Setidaknya ada dua konsep yang dimaksud dengan Islam sebagai agama yang rasional. Pertama, konsep yang biasa beredar di masyarakat. Menurut pengertian ini, yang dimaksud Islam agama rasional adalah Islam memiliki pembenaran “rasional” atas aturan-aturannya bahkan aqidahnya. Yang kedua, Islam merupakan agama yang rasional karena dasar-dasarnya dibangun atas “hujjah-hujjah” yang dapat dibuktikan secara rasional.
    1. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, rumusan masalah dari penulisan ini sebagai berikut:
1.2.1 Apa Peran Akal dan Wahyu dalam Islam?
1.2.2 Apa Berbagai Bukti Kesempurnaan Islam?
1.3 Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah diatas, tujuan dalam penulisan ini sebagai berikut:
1.3.1 Untuk mengetahui Peran Akal dan Wahyu dalam Islam
1.3.2 Untuk mengetahui Berbagai Bukti Kesempurnaan Islam

BAB II
PEMBAHASAN

    1. Peran Akal dan Wahyu dalam Islam
      1. Pengertian Akal
Pengertian akal dapat dijumpai dalam penjelasan Ibnu Taimiyah (2001:18). Lafadz akal adalah lafadz yang mujmal (bermakna ganda) sebab lafadz akal mencakup tentang cara berpikir yang benar dan mencakup pula tentang cara berpikir yabg salah. Adapun cara berfikir yang benar adalah cara berpikir yang mengikuti tuntunan yang telah ditetapkan dalam syar’a.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, akal adalah daya pikir untuk memahami sesuatu atau kemampuan melihat cara-cara memahami lingkungannya.
      1. Pengertian Wahyu
Wahyu sendiri dalam Al-Quran disebut dengan kata al-wahy yang memiliki beberapa arti seperti kecepatan dan bisikan. Wahyu adalah petunjuk dari Allah yang diturunkan hanya kepada para nabi dan rasul melalui mimpi dan sebagainya. Wahyu adalah sesuatu yang dimanifestasikan, diungkapkan. Ia adalah pencerahan, sebuah bukti atas realitas dan penegasan atas kebenaran. Setiap gagasan yang di dalamnya ditemukan kebenaran ilahi adalah wahyu, karena ia memperkaya pengetahuan sebagai petunjuk bagi manusia (Haque, 2000: 10). Allah sendiri telah memberikan gambaran yang jelas mengenai wahyu ialah seperti yang digambarkan dalam al-Qur’an surat al-Maidah ayat 16 yaitu:




Dengan Kitab Itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keredhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan Kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus”
      1. Peran Akal dan Wahyu dalam Islam
Allah meniupkan ruh ke dalam diri manusia, yang tidak diberikanNya kepada makhluq bumi yang lain. Karena manusia mempunyai ruh, ia mempunyai kekuatan ruhaniyah yaitu akal. Dengan akal itu manusia mempunyai kesadaran akan wujud dirinya. Dengan otak sebagai mekanisme, akal manusia dapat berpikir dan dengan qalbu (hati nurani) sebagai mekanisme akal manusia dapat merasa. Allah menciptakan manusia dalam keadaan,sebaik-baiknya, seperti dalam QS At-Tin 4:


Artinya: Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.
Kemampuan akal untuk berpikir dan merasa bertumbuh sesuai dengan pertumbuhan diri manusia. Agar manusia dapat mempergunakan akalnya untuk berpikir dan merasa, ia perlu mendapatkan informasi dan pengalaman hidup. Mutu hasil pemikiran dan renungan akal tergantung pada jumlah, mutu dan jenis informasi yang didapatkannya dan dialaminya. Ilmu eksakta, non-eksakta, ilmu filsafat adalah hasil olah akal dengan mekanisme otak. Kesenian dan ilmu tasawuf adalah hasil olah akal dengan qalbu sebagai mekanisme.
Oleh karena akal manusia itu terbatas, Allah Yang Maha Pengatur (ArRabb) memberikan pula sumber informasi berupa wahyu yang diturunkan kepada para Rasul yang kemudian disebar luaskan kepada manusia. Nabi Muhammad RasuluLlah SAW adalah nabi dan rasul yang terakhir. Setelah beliau, Allah tidak lagi menurunkan wahyu. Dalam shalat kita minta kepada Allah:


Artinya: ‘‘Tunjukilah kami jala yang lurus’’(1:6)
Maka Allah menjawab:


Artinya: ‘’Alif Lam Mim. Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa.’’ (QS. Albaqarah 1-2).
Al Quran yang tak ada keraguan dalamnya memberikan informasi kepada manusia tentang perkara-perkara yang manusia tidak sanggup mendapatkannya sendiri dengan kekuatan akalnya:


Artinya: “ Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya” (QS. Al-Alaq 5).










    1. Berbagai Bukti dalam Kesempurnaan Islam ( Suyumuliyatul Islam)
Islam merupakan sebuah din yang kaffah (sempurna). Berawal turun pada abad empat belas silam, Islam telah memberikan kepada seluruh umat manusia solusi secara menyeluruh atas semua probelmatika umat yang sedang berlangsung ataupun akan berlangsung dalam kehidupan umat manusia. Allah SWT dalam hal ini berfirman :